Pendidikan Masa Depan Berbasis Kecerdasan Buatan: Maslahat atau Bencana?

Penulis: Abi Amar Zubair

 

Eureka. Begitulah orang mengatakannya ketika berhasil menciptakan dan menyelesaikan sesuatu yang rumit. Sejatinya, manusia merupakan makhluk yang penasaran dengan hal yang tidak biasa diterima pancaindra, apalagi mengenai dunia teknologi. Berbagai jenis permainan pikiran dalam menciptakan teknologi baru telah dicetuskan. Bangsa-bangsa didunia berlomba-lomba dan bersaing dalam menciptakan teknologi mutakhir yang semakin hari semakin mengalami kemajuan.

Manusia telah mengalami perkembangan dalam hal ilmu pengetahuan, sehingga membuat mereka semakin haus dan berinovasi untuk berupaya menemukan teknologi baru. Jika dahulu manusia menggunakan hewan seperti kuda sebagai kendaraan mereka, zaman sekarang dengan teknologi mesin yang dilengkapi dengan komponen lainnya, maka pada masa depan akan berteknologi AI dimana saat ini telah menjadi bahan pembicaraan hangat masyarakat dunia yang ditandai dengan diberikannya kemampuan autodrive pada kendaraan roda empat. Jika dahulu sebuah tempat industri membutuhkan tenaga manusia, maka revolusi industri pada era 3.0 telah memperkenalkan otomatisasi industri yang sampai saat ini selalu digalakkan. Jika dahulu manusia melakukan perdagangan dengan cara barter, era sekarang dengan uang dan aplikasi berbasis elektronik (e-money), maka yang terjadi pada masa mendatang adalah kemungkinan manusia menggunakan e-money dan bitcoin atau jenis mata uang digital kripto lain karena berbagai masyarakat dunia memprediksinya sebagai mata uang masa depan dunia. Namun, pada dasarnya hal itu masih dalam tahap perkembangan ke arah yang lebih baik agar dapat dimanfaatkan oleh manusia, terlebih saat menempuh jalan era society 5.0.

Perkembangan teknologi saat ini, kita telah memasuki era industry revolution 4.0 dan society 5.0. Itu berarti, terdapat inovasi baru dalam menciptakan teknologi yang semakin kompleks. Industri 4.0 menekankan adanya otomatisasi industri yang dibekali gabungan jaringan, guna mencapai penggunaan berkualitas. Sedangkan society 5.0 mengharapkan manusia dapat menggunakan, bekerja sama, mendapatkan fitur kenyamanan secara optimal dari kemampuan teknologi. Pada era-era tersebut, teknologi yang akan dikembangkan dengan pesat salah satunya berbentuk Artificial Intelligence (AI). AI atau Kecerdasan Buatan merupakan mesin pintar yang digunakan untuk memecahkan permasalahan rumit dengan diarahkan oleh keperluan manusia[1]. Lalu bagaimana dengan keunggulan AI? Apakah kecerdasan buatan lebih baik daripada kecerdasan alami yang dimiliki manusia?

Sekilas jika kita pahami lebih mendalam, AI mempunyai dua keunggulan yang jelas. Pertama, kecerdasan yang bersifat tetap (permanen). Hal ini disebabkan oleh program-program yang telah diatur sedemikian rupa oleh AI Engineer sehingga berbeda dengan manusia yang kerap kali mengalami faktor lupa dalam ingatannya. Kedua, AI dapat bekerja lebih cepat dan tepat. Berbeda dengan manusia yang dapat mengalami kelelahan.

Teknologi dan AI memang dapat melakukan pekerjaan dengan tepat dan cepat. Namun, realitas yang terjadi adalah manusia lebih hebat dari benda itu. Mengapa? Hal ini disebabkan karena AI saat ini tidak memiliki jiwa emosional dan keinginan sendiri untuk berkehendak. Lalu muncul pertanyaan, mengapa ‘saat ini’? Apakah berarti masa depan akan terjadi perubahan kemajuan pada teknologi AI? Saya pastikan, hal ini dapat dijawab dengan teori AI. AI saat ini menduduki fungsi lemah (weak AI) dengan ditandai keterbatasan fungsi. Maksudnya, AI hanya dibekali keterampilan tertentu oleh penciptanya. Berbeda dengan jenis AI Kuat (general/strong) dan SUPER yang setara bahkan melebihi kemampuan manusia[2]. Namun, apakah manusia bisa menciptakan teknologi yang seperti itu di masa depan? Dengan memiliki keterampilan berpikir, keinginan, nafsu, dan emosi sendiri? Lalu, bagaimana penerapan AI di masa depan dalam ranah pendidikan? Apakah sebuah maslahat atau justru bencana?

 

AI sebagai Alat Pendidikan

Dewasa ini, perkembangan AI sangat bervariasi. AI yang saat ini menggemparkan dunia adalah jenis humanoid yang dibekali kemampuan berinteraksi dengan manusia. Lantas, dalam benak pikiran saya, yang mungkin juga dipikirkan pembaca tulisan ini, akan muncul humanoid yang diciptakan sebagai pengganti guru dalam proses belajar-mengajar. AI itu diberikan memori yang didalamnya berisikan materi pengajaran yang telah dikemas dalam kurikulum. Sungguh luar biasa bukan? Namun, itu hanya sebuah spekulasi yang belum jelas kebenarannya. Jadi, mari kita lihat dalam perspektif dunia nyata.

Dalam kehidupan sehari-hari, sebenarnya kita telah menjumpai bahkan menggunakan AI. Contoh yang mungkin pernah kita gunakan adalah jenis voice assistant seperti fitur siri pada teknologi Apple, dan google assistant. Salah satu kemampuannya adalah memberikan jawaban dari berbagai macam persoalan dalam bidang keilmuan seperti mendapatkan materi, buku, dan artikel hanya dengan memanfaatkan suara kita. Selain itu, para pelajar dan mahasiswa mengenal Search Engine (google). Website itu memberikan informasi kepada seseorang yang mengakses sesuai dengan keinginan. Pada dasarnya, informasi yang diberikan google adalah hasil karya seseorang yang dikemas dalam bentuk tulisan, gambar, maupun video dengan tujuan untuk berbagi informasi. Tak sampai disitu saja, perkembangan google semakin baik, dengan ditandai adanya semacam sensor yang akan memungkinkan pembenahan kata yang salah ketika kita melakukan pencarian.

Adapun ancaman bagi pendidik seperti guru atau dosen di masa depan adalah google akan mengambil alih konstribusinya dalam pengajaran. Namun, bukan berarti pendidik kalah saing dengan google. Terdapat dua peluang pendidik dalam mengembalikan konstribusinya dalam instansi pendidikan di masa depan. Pertama, mampu beradaptasi dengan aplikasi pada teknologi dengan selalu meng-upgrade diri melalui kesadaran diri. Pada tahun 2020 lalu, banyak instansi pendidikan di dunia memanfaatkan teknologi dalam aktivitas belajar-mengajar karena pandemi Covid-19 yang meresahkan. Namun karena dia, pendidikan di dunia selangkah lebih maju dari biasanya. Sekolah ditutup pindah dengan cara virtual learning ditempat masing-masing. Tidak ada pertemuan di satu tempat yang sama. Ini akan mengukir sejarah peradaban pendidikan manusia di masa depan.

Kedua, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan mengajar. Manusia sejatinya diberikan tugas untuk meraih ilmu sebanyak-banyaknya. Ini berarti seorang guru atau dosen pun perlu meng-update keterampilan mengajar dan ilmu umum maupun agama setiap harinya. Hal ini disebabkan karena fakta di lapangan berbicara bahwa selalu ada perkembangan ilmu pengetahuan di setiap perubahan generasi atau pertahunnya.

Selain itu, implementasi kecerdasan buatan dalam dunia pendidikan yang telah dipakai beberapa negara seperti (1) Blackboard, umumnya digunakan perguruan tinggi di Amerika dan Eropa yang dapat mengidentifikasi ketidakpahaman mahasiswa serta dapat menawarkan solusi yang sudah dipublikasikan dosen yang telah diprogramkan. Alat AI tersebut dapat memperbarui dan belajar sendiri sesuai kendala dan kebutuhan yang dihadapi mahasiswa. (2) Automatic Assesment. Merupakan sebuah platform yang dibekali AI yang menyediakan soal dan koreksi soal secara otomatis dimana siswa dapat mengerjakan soal melalui teknologi dan jaringan yang telah diprogramkan oleh guru/dosen[3].

Penerapan AI memberikan tanda bahwa terjadi perubahan kreativitas oleh tenaga kependidikan dalam pembelajaran. Pada dasarnya, peranan AI ataupun pendidik seharusnya memberikan dampak positif yang sama bagi para pelajar/mahasiswa. Hal yang perlu dikembangkan adalah menciptakan kemampuan unggul seperti berpikir kritis, kreatif, inovatif dan produktif, serta kolaboratif dan komunikatif. Selain itu, yang paling penting dan utama, peranan AI dalam pendidikan memberikan dampak positif terhadap karakter pelajar mandiri. Presiden ke-6 Negara Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono mengumumkan dan dengan ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional tahun 2011 mengenai 18 nilai pembentuk karakter yang harus disisipkan disetiap kegiatan sekolah, diantaranya ialah Religius, Jujur, Disiplin, Toleransi, Kreatif, Mandiri, Kerja Keras, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Berkebangsaan, Nasionalisme, Menghargai Prestasi, Cinta Damai, Komunikatif/Bersahabat, Gemar Membaca, Peduli Sosial, Peduli Lingkungan, serta Tanggung Jawab[4]. Semua pelajar di masa depan terutama di Indonesia yang bersifat otodidak ataupun di didik harus dituntut untuk mewarisi karakter-karakter tersebut dengan menanamkan ilmu agama dan Pendidikan karakter yang berdasar aspek Pancasila dan kewarganegaraan. Jika tidak, akan terjadi krisis moral berkepanjangan yang hanya akan menimbulkan problematika sosial di segala lini kehidupan bermasyarakat.

 

Akhir Kata

Negara-negara di dunia terutama pada negara maju seperti Inggris, Cina, Amerika, dan Hong Kong, kerap kali memperkenalkan teknologi baru yang seolah-olah mereka melakukan sebuah kompetisi besar-besaran. Selanjutnya, bagaimana dengan Indonesia? Apakah terus mengimpor teknologi dan AI dari luar negeri? Indonesia memiliki kampus teknik yang bergengsi seperti Institut Teknologi Bandung, Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya, dan Universitas Amikom Yogyakarta yang memiliki banyak ciptaan di bidang teknologi. Bagaimana tidak?, perguruan tinggi tersebut mempunyai mahasiswa yang berintelektual terlebih pada bidang teknologi. Tantangan yang dihadapi oleh para mahasiswa di kampus jurusan teknik di Indonesia adalah menciptakan teknologi yang dilengkapi AI untuk mendapatkan generasi muda yang cerdas dalam bidang Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (AI). Kita tidak perlu risau dan galau dengan adanya mahasiswa yang apik dalam menciptakan teknologi, bukan berarti kita tidak dapat melakukan hal serupa. Kita bisa menciptakan sendiri teknologi dan AI itu, jika ingin belajar dan berpola pikir yang kreatif dan inovatif. Harapannya ciptaan AI lokal dapat digunakan pada konsep pendidikan dan pembelajaran.

Kecerdasan buatan yang dimanfaatkan untuk keperluan pendidikan pada dasarnya memberikan sebuah maslahat bagi generasi penerus bangsa, jika menciptakan karakter dan kompetensi yang unggul dan positif. Tidak akan ada sebuah bencana, jika kecerdasan buatan memperburuk di segala lini kehidupan masyarakat dunia. Mari bersama-sama membangun perubahan masa depan yang baik, perkembangan yang berintelektual, dan meningkatkan moralitas yang benar demi kesejahteraan bersama.

"Sebuah essay yang ditulis untuk perlombaan yang diselenggarakan oleh Universitas Amikom Yogyakarta." https://home.amikom.ac.id/https://point.amikom.ac.id/.


Catatan Kaki

[1] Manerep Pasaribu and Albert Widjaja, Artificial Intelligence: Perspektif Manajemen Strategis (Jakarta: Gramedia, 2022), 1.

[3] Afandi Madjid, 7 Penerapan Penting Artificial Intelligence dalam Pendidikan (kejarcita.id), diakses pada Selasa, 26 Juli 2022, pukul 18.20 WIB.

[4] Fatkhul Mubin, “Menciptakan Sekolah Yang Berkarakter,” OSF Preprints, 2020, 6–7, https://doi.org/10.31219/osf.io/prks9.

Komentar